Homili dari Uskup Dr. Helmut Dieser

Homili dari Uskup Dr. Helmut Dieser
di Dom Aachen
dalam Misa Syukur Meriah
atas Perayaan Beatifikasi Clara Fey
Minggu ke-6 Masa Paskah – B -, 6 Mei 2018
Bac. 1: Kis. 10 : 25-26, 34-35, 44-48;
Bac. 2 : 1 Yoh. 4 : 7-10;
Bac. Injil: Yoh. 15, 9-17

Yang terkasih Sr. Henriette, para Suster dari Kanak-kanak Yesus yang Miskin, para imam, serta para saudari dan saudara dalam iman, ada dua jenis cinta kasih manusiawi: cinta kasih antar pasangan dan cinta kasih dalam persahabatan. Keduanya memiliki kesamaan tetapi juga perbedaan yang mendalam. Aku ingin menjelaskan dari segi sudut pandang. Jika dua orang saling jatuh cinta, mereka saling memandang satu sama lain. Mereka ingin selalu saling memandang, selalu membayangkan wajah yang dicintainya. Jika setelah berpisah akhirnya mereka bertemu kembali, hal itu merupakan kebahagiaan terbesar. Cinta kasih memandang yang lain indah (cakap). Dan keindahan tersebut bagi mereka merupakan suatu hadiah satu sama lain. Hal itu juga memainkan peranan penting dalam persahabatan, namun berbeda. Juga para sahabat memandang satu sama lain, mereka senang berada bersama yang lain, mereka senang saling bertemu kembali. Tetapi dalam persahabatan, hal tersebut tidak dangkal. Persahabatan lebih tak terpisahkan, sebab mereka saling mengetahui, bahwa mereka mengarahkan diri ke arah yang sama. Mereka membagikan iman yang dalam, kebersamaan dalam perjalanan, dan saling memercayai. Mereka saling membantu untuk menjalani hidup mereka, mereka senantiasa setia untuk tetap mempertahankan jalan dan pandangan mereka di arah yang benar dalam kehidupan. Juga dalam beberapa pengalaman, mereka memiliki kesamaan.

Dengan Beatifikasi Clara Fey di Katedral Aachen ini, keuskupan kita mendapat hadiah seorang pencinta dan sahabat. Juga bila jarak ke zamannya seakan menjadi lebih jauh, Beata Clara Fey sekarang tak lagi dipisahkan dari kita. Sebab dia berbagi dengan Yesus dalam hidup dan kebangkitan. Dengan beatifikasinya, Gereja menekankan, bahwa kita sekarang ditempatkan dalam hubungan yang baru satu sama lain:

– Beata Clara Fey dapat dan ingin membantu kita untuk mengasihi, sebagaimana dia sendiri telah mengasihi.
– Beata Clara Fey dapat dan ingin membantu kita sebagai sahabat, untuk memandang ke arah yang sama, ke arah yang ia sendiri telah memandangnya dalam hidup. Ia ingin membantu kita, sebagaimana ia sungguh berada dalam hidup kita sendiri.

Ya, kita mendapatkan seorang sahabat baru, yang tak lagi dipisahkan dari kita. Sisa-sisa tulangnya kita bawa ke makamnya yang baru dan terakhir. Tetapi peti mati seorang beata tidak lagi merupakan tempat kematian. Melalui relikuinya, secara spiritual ia tinggal di antara kita di Aachen, sebab Clara Fey telah mencapai kesempurnaan dalam persatuan dengan Yesus dalam kebangkitan-Nya.

Ya, kita mendapatkan seorang sahabat baru, kepadanya kita sekarang boleh selalu datang. Sebagaimana yang telah ia lakukan sejak dahulu, yakni memberikan pertolongan bagi kita. Bagaimanakah hal itu terjadi? Dahulu ia adalah seorang sahabat yang memiliki cinta kasih yang besar serta hubungan yang mendalam dan merupakan sahabat sejati. Dan lewat sebuah spiritualitas khusus, ia menampakkan kesalehannya secara pribadi. Clara kerap menyatakan hal ini: “Hendaklah kita dengan mata yang satu memandang tugas kerasulan; sedangkan mata yang lain selalu memandang Tuhan”. Keduanya bersama-sama memengaruhi cara hidupnya dan merupakan rahasia kerasulannya, yang sampai sekarang diwariskan dalam kongregasi yang didirikannya. Hal itu merupakan hubungan penuh kasih dalam cara memandang, yang selalu menjadi titik tolaknya: penderitaan anak-anak, ketidakadilan yang mereka alami dalam hidup, penderitaan karena kekurangan-kekurangan mereka, dan keindahan mereka yang tersembunyi. Pendidikan Clara Fey dengan penuh simpati dan kesabaran – membentuk dan membina anak-anak. Pada saat yang sama, ia selalu ingin memandang Yesus dengan mata yang lain. Jadi tidak meninggalkan anak-anak, melainkan dalam diri mereka mengenali Yesus dan mencari Yesus yang sama dalam doa, dalam hati nurani, dalam perayaan-perayaan liturgi, dan sakramen-sakramen. Kebesaran Beata Clara Fey terletak pada bagaimana ia dalam kesempatan yang sama melakukan keduanya – mata yang satu memandang tugas kerasulan; sedangkan mata yang lain selalu memandang Tuhan. Beata Clara Fey sejak dahulu dikenal sebagai pencinta sejati untuk Tuhan, sahabat untuk anak-anak dan sesama susternya serta banyak orang sezamannya. Selama hidupnya, ia selalu memelihara relasi dengan orang-orang tersebut.

“Cintakasih tidak berarti bahwa kita telah mencintai Allah, melainkan bahwa Ia mencintai kita dan mengutus Putera-Nya sebagai tebusan atas dosa-dosa kita”, demikian kita dengar hari ini dalam bacaan dari surat Yohanes yang pertama. Cinta kasih kristiani terletak pada inti terdalam. Dari situlah, Ia jatuh cinta kepada umat manusia. Ia yang sebelumnya telah mencintai kita. Tak dapat dirasakan, bersifat ilahi, namun siap menerima semua yang bersifat manusiawi, bahkan pula diri kita dalam penderitaan dan beban hidup.

Tebusan berarti: lebih berat daripada beban kita. Apa yang telah Ia lakukan untuk kita semua. Ia terus melimpahi milik-Nya, lebih tinggi dan lebih dalam daripada semangat dan kesetiaan kita kepada-Nya. Semuanya dapat ditemukan dalam diri Yesus. Tebusan untuk dosa-dosa kita berarti: Allah jatuh cinta dan takkan melepaskan! Dalam hal ini, Beata Clara telah mendalami hidup rohaninya, sehingga ia menjadi seorang pribadi yang penuh kasih. Kata-katanya senada dengan surat Yohanes ini, “Allah mencintai kita terlebih dahulu, dari pihak-Nya semuanya jelas, bagi kita hanyalah tinggal mengarahkan diri kepada-Nya dan memandang-Nya. Jika kita memandang-Nya dan mencari semuanya di dalam diri-Nya, kita akan menemukan semuanya di dalam Dia”. Marilah kita selalu memohon Beata Clara, agar saat ini membentuk sikap batin kita secara baru dalam khazanah Gereja: menenggelamkan diri dalam Yesus, di dalam Dia melihat kasih Allah yang membuat batin kita menjadi terang, sukacita, dan menemukan semua yang dibutuhkan oleh hati kita untuk menuju ke kedamaian batin. Yesus sendiri bersabda: “Aku telah mengatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku tinggal padamu dan supaya sukacitamu menjadi sempurna”.

Bersamaan dengan itu, mata yang lain hendaknya penuh kasih tertuju kepada tugas kerasulan. Bagi kita, hal ini berati: Sebagai orang kristiani memandang ke arah yang sama sebagai sahabat. Untuk apakah kamu hidup? Apakah yang mendorongmu? Apakah yang memikatmu? Dengan apa engkau akan mengisi hidupmu atau sebaliknya: ke dalam hal apa kamu mengintegrasikan dirimu secara pribadi?

Persahabatan yang sejati saling menguatkan. Demikian mereka saling membantu, agar mereka menuju kesejatian dan kehidupan yang benar. Sahabat kita yang baru, Beata Clara Fey menolong kita, untuk bersama Yesus memandang ke arah yang sama, sebagaimana ia telah melakukannya: “Aku menyebutmu tidak lagi hamba, melainkan sahabat. Aku sudah menyampaikan semua kepadamu, apa yang kudengar dari Bapa-Ku. Demikianlah Aku juga telah menentukanmu, bahwa kamu menghasilkan buah dan buahmu tinggal tetap”.

Semoga Beata Clara Fey menolong kita, agar kita mengisi hidup ini dan memandang dengan kasih segala tugas atau pekerjaan, usaha-usaha dan perjuangan-perjuangan, tetapi juga hal-hal lainnya: Siapakah yang membutuhkanku? Apakah yang kulihat, namun tidak dilihat orang lain – dimana hal ini tergantung sudut pandangku dan bagaimana aku dapat memahaminya? Bagaimana agar aku menjadi diriku yang sesungguhnya – bagi sesama, bagi Allah? Hidup kita tidak hanya merupakan jangka waktu tahun di dunia, melainkan lebih daripada itu: Hal itu merupakan materi pokok, yang membuat kita menjadi seorang pribadi bagi Allah, sesama, dan bahkan bagi keabadian/ kekekalan – yang berkaitan erat dengan hal ini, “menghasilkan buah yang tinggal tetap”. Hidup Beata Clara berlangsung selama 79 tahun – dari tahun 1815 sampai 1894. Saat ini, hidup itu menjadi abadi, tak dapat salah, otentik. Dengan demikian ia terus menghasilkan buah, sebab ia sekarang boleh menjadi sahabat dan perantara kita dari surga.

Aku ingin menutupnya dengan kata-kata dari Beata, sahabat kita yang baru, yang sekali lagi menunjukkan kebesaran dan kasihnya yang pantas dipuji: “Tuhan tidak menginginkan persembahanku. Dia menghendaki diriku. Tak pernah cukup aku memberi, selain diriku seutuhnya“ (1)

Hidup kita yang berlandaskan iman tidak berarti bahwa kita menghasilkan berbagai prestasi. Prestasi kita terletak pada pemberian diri kita, semakin melaksanakan kehendak-Nya, serta semakin berani tanpa khawatir – seperti seorang anak. Menjadi kristiani, menjadi kudus, bukanlah perbuatan-perbuatan kepahlawanan yang besar, melainkan kebesarannya terletak pada persembahan yang total kepada Tuhan, yang mengasihi kita. Dan hal itu tidak memisahkan kita dari sesama manusia, melainkan menjadi sahabat bagi mereka.

Itulah rahasia Beata kita yang baru. Ia adalah seorang yang penuh kasih dan sahabat setia.

Marilah kita mohon bersama-sama: Beata Clara Fey, doakanlah kami! Amin.

(1) Kutipan dari: Roth, Hans Jürgen, “Clara Fey. Ein Leben hat Spuren hinterlassen”. Diterbitkan dari Bischöflichen Generalvikariat Aachen, Aachen 2013, 288.