Melepaskan dan Bergantung pada Allah

Perutusan kita tidak muluk-muluk, kita diminta menghadirkan Kerajaan Allah yaitu dengan menampakkan wajah Yesus yang penuh kasih. Perbuatan kasih itulah yang diminta-Nya.

Sulaman di Kasula oleh Suster PIJ

Renungan Doa Rosario, 18 Oktober 2018

Kapel Susteran Sang Timur – Bandulan Barat 40, Malang

Bacaan Injil: Lukas 10:1-9

 

Setiap pribadi dipanggil Tuhan menjadi milikNya lalu diutusNya, semua tiada lain berdasarkan pada cinta. Karena cinta kita menjadi milik Allah dan karena cinta Tuhan mengutus. Bapa adalah sumber segala cinta dan melalui Putra, kita belajar menjalani perutusan dengan bantuan Roh Kudus. Kita masing-masing dengan profesinya diutus tidak ke suatu yang mudah melainkan ke tegah-tengah serigala, artinya akan ada banyak rintangan di depan dan kita tak boleh membawa apapun. Itulah kemiskinan. Melepaskan segala sesuatu dan hanya bergantung pada Allah. Melepaskan bukan berarti tidak punya sama sekali tapi memberi diri dan menerima penderitaan, semua hanya demi Dia. Perutusan kita tidak muluk-muluk, kita diminta menghadirkan Kerajaan Allah yaitu dengan menampakkan wajah Yesus yang penuh kasih. Perbuatan kasih itulah yang diminta-Nya. Salah satu hal termudah yang dapat kita lakukan yaitu menyapa dengan hati dan ramah kepada siapa pun. Sapaan itu berharga karena dengan sapaan kita dianggap, dengan sapaan kita ada dan serasa Allah sendiri yang menyapa lewat sesama.

Perutusan juga ditanggapi luar biasa oleh Beata Clara Fey dimana pada pesta Santo Lukas pengarang Injil tanggal 18 Oktober 1848 yang silam Beata Clara Fey menerima busana biara pertama. Seorang bangsawan yang menyerahkan diri seutuhnya hanya untuk Yesus dan berkarya dalam cinta kasih pada mereka yang miskin dan terlantar. Bunda Maria pun demikian. Dengan apa adanya, Maria menerima perutusan untuk menjadi sarana kehadiran Yesus di dunia. Tak takut resiko Bunda Maria menyanggupi hal itu karena cinta dan kerelaan. Bunda Maria yang sederhana tak memiliki apapun selain dirinya maka ia berusaha memberikan diri setotal mungkin, segala yang ada padanya.

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita rela memberi segalanya bagi Tuhan melalui sesama? Sudahkah kita bersukacita menjalani perutusan dalam hidup sehari-hari? Mari kita memulai kembali langkah baru perutusan dengan meneladan Bunda Maria dan meminta kekuatan serta kesabaran melalui doa rosario.

Perutusan bukan dimulai dari orang lain melainkan diri sendiri karena dalam diri kita Allah meraja. (Sr. Shella)