Youth Camp 2018

Saya bersyukur kepada Tuhan, saya diperkenankan mengikuti acara ini. Tuhan begitu mengejutkan, Dia mempertemukan saya dengan pribadi-pribadi yang memiliki cita-cita dan keinginan yang sama dalam kegiatan ini. Hebatnya lagi, saya mendapat teman sekamar yang ajaib-ajaib (=hebat). Persahabatan lahir di sini, karakter yang dimiliki setiap pribadi diikuti dengan latar belakang yang berbeda tidak menyurutkan semangat kami untuk menjalin persahabatan. Sukacita, ya sukacita, itulah yang mewarnai hari-hari kami selama di Jedong, Malang.

Kegiatan yang paling menyentuh hati saya dan menahan tangis mati-matian karena malu sama teman, adalah kegiatan Ibadah Pembukaan Youth Camp. Kami peserta diarahkan untuk membawa lilin menyala dan meletakkannya di bawah kaki Hati Yesus yang Mahakudus. Bagi saya pribadi, peristiwa itu menjadi lambang dan simbol penyerahan diri saya kepada Yesus, Kekasih Jiwaku. Proses mengantar lilin ini mengingatkan saya akan kecerobohan yang saya lakukan ketika masih kelas 1 SMA. Orangtua menentang keras keinginan saya untuk menjadi seorang suster. Tanpa sepengetahuan mereka, saya kabur dari rumah, dan meminta kepada Romo Paroki supaya memasukkan saya ke biara. Dan saat itu baru saya tahu bahwa syarat minimal untuk menjadi seorang suster harus lulus SMA dulu, hahaha… yah, setiap orang punya kisah unik bukan?

Sharing perjalanan para Suster dalam menjawab panggilan Tuhan, memberi penghiburan tersendiri bagi saya. Setiap Suster memiliki kisah yang berbeda-beda. Dan perbedaan itu adalah kekayaan. Begitu ajaibnya Tuhan memanggil putri-putri-Nya dengan serangkaian peristiwa iman yang tidak dapat kita pahami. Sebagian proses panggilan Tuhan itu turut kita rayakan bersama dalam perayaaan penerimaan jubah Postulan, Suster Novis, dan Suster Junior Kongregasi Suster PIJ. Salah satu pengalaman berharga bagi kami peserta Youth Camp 2018. Dan ini pengalaman pertama saya menyaksikan penerimaan jubah para Suster. Peristiwa ini terlalu indah untuk dilupakan.

Hidup membiara dan hidup berkeluarga adalah panggilan. Dan semua itu baik di hadapan Tuhan. Lantas mengapa ada sekumpulan OMK berkumpul di Jedong untuk ikut retret panggilan menjadi biarawati? Ini adalah karunia dari Tuhan. Dan “sekumpulan OMK” tersebut mau menanggapi. Alkitab berbicara jelas tentang karunia hidup melajang untuk tujuan membina hubungan yang lebih dekat dengan Allah (1 Korintus 7). Rasul Paulus menjelaskan jika seseorang tidak memiliki karunia ini, maka lebih baik ia menikah saja (1 Korintus 7:2). Jika seseorang oleh keadaannya “diarahkan” untuk hidup melajang, maka ia perlu meminta kepada Allah supaya mampu menjalaninya, dan produktif dalam menghayati ketentuan Allah (1 Korintus 7:29-34). Ada dua keuntungan bagi orang yang sedang menggumulkan karunia ini, yaitu: hubungan yang lebih dekat dengan Allah dan keyakinan untuk dapat bekerja luas melayani Allah (1 Korintus 7:35-40).

Proficiat saya ucapkan kepada 3 orang teman Youth Camp 2018 yang memilih tinggal di Malang setelah kegiatan selesai, kalian sungguh hebat. Semoga keberanian yang kalian miliki menjadi inspirasi bagi kami yang masih ragu-ragu, yang masih terikat oleh kesibukan studi dan pekerjaan. Dan pada akhirnya, terima kasih kami haturkan kepada Kongregasi Suster PIJ yang telah menyelenggarakan kegiatan ini. Terima kasih telah memperkenankan kami mengikuti retret ini. Berkat retret ini, kami peserta Youth Camp semakin ditegaskan akan karunia panggilan hidup yang dimiliki setiap peserta. Semoga kegiatan ini tetap berlanjut di tahun-tahun mendatang, dan semoga dengannya semakin banyak kaum mudi yang berani menjawab panggilan Tuhan untuk hidup membiara. Mohon maaf untuk semua tindakan, perkataan, dan kelalaian kami yang tidak berkenan di hati para suster selama di Malang. ‘Till we meet again ya…. Terima kasih. Salam dan doaku, Made (peserta Youth Camp 2018)