Dipanggil dan Datang

Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan mereka pun datang kepada-Nya (Mrk. 3:13)

 

Menurut pemikiran manusiawi kita, Yesus semestinya memilih rasul-rasul yang akan ditugaskannya menyebarkan pengajaran-Nya dari kalangan orang terpelajar yang terpandang dan ahli taurat zaman itu. Tetapi Ia memanggil mereka yang Ia kehendaki. Bagi tugas yang mulia ini, Ia memilih mereka yang tak terpelajar, sederhana, agar dalam diri mereka kekuatan Allah dapat diwahyukan.

Nelayan-nelayan miskin ini dalam kesederhanaan jiwa mereka lebih bersedia dan lebih mampu mendengarkan panggilan Allah serta dapat mengikuti Sabda itu. Ia memanggil mereka yang Ia kehendaki-Nya.

Setelah Yesus bersabda: “Ikutlah Aku”, mereka meninggalkan jala mereka dan mengikuti Dia (Mat. 4:19-20). Berbahagialah jiwa yang telah dipilih oleh Yesus dengan cara khusus ini, yang diperkenankan hidup di hadirat-Nya dan boleh mengalami kebahagiaan dalam pergaulan mesra dengan Dia, sebagai saudara dan sahabat karib, sebagai anak-anak-Nya yang dicintai. Ia memperkenankan mereka duduk pada meja perjamuan, menyantap Roti yang Ia berikan kepada mereka. Apakah mereka semua yang dipanggil itu mendengarkan dan menjawab Dia – meskipun Ia berdiri di muka pintu dan mengetuk (Why. 3:20) dan sabda-Nya mampu menembus hati? Sayang! Tidak semua!

Berapa banyak orang yang terjerat dalam “kekayaan” dan “kenikmatan duniawi” serta menjawab atas panggilan Kristus, “Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi melihatnya” atau “Aku baru kawin dan karena itu tidak dapat datang, aku minta dimaafkan” (Luk. 14:18-20). Sedikit sekali orang yang dengan sederhana mendekati Yesus, tidak mengambil sedikit pun dari milik-Nya bagi diri sendiri, dan membiarkan diri sendiri dipakai oleh-Nya.

Hal inilah yang diinginkan Yesus dari mereka yang Dia panggil. Agar dalam kesederhanaan, hati menuju dan mendekati-Nya serta tetap tinggal pada Dia, tanpa menoleh ke kanan ataupun ke kiri. “Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu” (Luk. 19:42). Sekiranya kita mengerti, kita akan meninggalkan segalanya hanya untuk mengikuti Dia, yang telah memilih kita dalam Kerahiman-Nya.

Kita tidak akan menginginkan sesuatu yang lain selain Yesus, karena di dalam Dia, kita telah menemukan semuanya. Bagi kita, Dia berarti segalanya: Penyelamat – Tabib – Sahabat – Bapa melebihi semua bapa – Mempelai – Santapan – dan Cahaya. (Beata Clara Fey, Meditasi 17 Agustus 1846)

“Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba” (Why. 19:9). Mereka tak kekurangan sesuatupun.