Homili Kardinal Amato

Homili dari Kardinal Amato
di Dom Aachen
dalam Misa Beatifikasi Clara Fey – 5 Mei 2018

Gereja Katolik di Jerman dan Belanda memandang Beata Clara Fey sebagai pancaran cahaya cinta sejati seturut kebajikan Injili melalui karya kerasulan bagi kaum muda di zamannya.

Sejarah mengatakan, pergolakan awal revolusi industri semakin menuntut masyarakat untuk maju dalam langkah-langkah industri. Sementara itu, tampillah kesatria puteri yang otentik ini dalam pelayanan Injil Kristus. Ia mengangkat martabat kaum muda yang miskin, mendidik dan melindungi mereka dari bahaya penderitaan serta eksploitasi.

Sebagaimana kita ketahui, terkadang Tuhan menyatakan kehendak-Nya melalui mimpi. Misalnya, ketika Ia bersabda kepada St. Yusuf, supaya membawa keluarga kudus ke pengungsian untuk melarikan diri dari kejaran Herodes. Begitu pula dengan Beata Clara Fey. Ketika masih muda, ia mengalami mimpi profetis. Dalam mimpi itu, ia bertemu dengan seorang Anak miskin di jalan yang meminta sedekah. Ketika ia bertanya kepada Anak itu, dimana Dia tinggal, Anak itu menunjuk ke langit dan berkata, bahwa Dia masih mempunyai banyak saudara kandung yang miskin. Anak itu berkata: “Aku adalah Kanak-kanak Yesus yang miskin”. Itulah mimpi yang memberi inspirasi kepada Clara.

Persekutuan yang ia dirikan, Kongregasi Para Suster dari Kanak-kanak Yesus yang Miskin (atau di Indonesia dikenal dengan Kongregasi Suster PIJ) semakin berkembang meski mengalami desakan politik. Hal ini bagaikan mawar di tengah semak duri. Kita tahu, bahwa dasar dari kekudusan adalah rahmat Allah. Para kudus merupakan karya Roh Kudus. Ia yang membentuk hati setiap orang dan menghiasinya dengan mutiara-mutiara Roh, yakni kebajikan.

Beata kita bersyukur kepada Tuhan setiap hari atas anugerah pembaptisan dan atas anugerah panggilan menjadi Katolik‚ “Betapa besar kebahagiaan – sebagaimana sering ia katakan – menjadi anggota Gereja Katolik”. Ia sangat antusias terhadap iman dan berulang-ulang menyatakan kerelaannya – mengorbankan hidupnya – untuk membela iman.
Karya kerasulannya yang istimewa tidak lain adalah perkembangan imannya yang mendalam. Di tengah-tengah gadis sebayanya, Clara Fey sungguh mengherankan. Bagaimana seorang pemudi terdidik dapat menaruh perhatian atas pendidikan pemudi-pemudi miskin. Tetapi bagi Clara, karya amalnya tidak merendahkan status sosialnya, melainkan sebuah kekudusan Injili yang otentik.

Hidup imannya dikuatkan melalui doa, penerimaan sakramen-sakramen, dan pendalaman spiritual. Ia tidak hanya bermeditasi dengan Kitab Suci, tetapi juga mendalami karya-karya dari St. Theresia Avila, St. Yohanes dari Salib, St. Fransiskus Sales, dan St. Alfonsus Maria Liguori. Dari para kudus ini, ia mewarisi pemikiran/ akal budi mereka, kebijaksanaan, nasihat-nasihat, kesalehan, ketaatan, dan kesabaran. Para saksi berpendapat, bahwa seluruh hidup Clara Fey merupakan rangkaian karya-karya belas kasih. Cita-citanya adalah berbuat baik bagi sesama, yang menjadi alasan bagi pendirian kongregasi. Itulah misinya, membantu mereka yang membutuhkan dan orang-orang kecil. Seorang saksi berkata, “Ia menyapa semua dengan penuh kasih, termasuk mereka yang meresahkan dan bersedia memberi maaf kepada yang menyakiti. Ia bermurah hati untuk memberi derma, baik kepada kaum miskin setempat, maupun keluarga para suster yang memerlukan. Ia memerhatikan terutama orang-orang sakit. Ia mempunyai rahmat tertentu untuk menghibur yang menderita dan memberi peneguhan”.

Kepemimpinan dalam persekutuan yang didirikannya, bagi Clara merupakan sekolah kebajikan yang sangat panjang dan bermakna. Keteladanan dan caranya mendidik sampai hari ini masih hidup dalam hati para susternya, mereka yang selanjutnya menyebarkan keharuman kebaikan Allah bagi anak-anak-Nya yang membutuhkan di dalam Gereja dan dunia. Dengan cara demikian, mereka memelihara anak-anak dan kaum miskin untuk mewujudkan sabda Yesus, “Manete in Me – Tinggallah dalam Aku”.

Beatifikasi Clara Fey merupakan pengakuan yang diberikan oleh Gereja kepada seorang wanita yang luar biasa, melalui keberaniannya merasul dan ketekunannya dalam kebajikan. Pada saat ini, kerasulan itu masih dilanjutkan oleh para suster, yang pada hari ini banyak hadir disini. Karya-karya karitatif pendirinya, tidak hanya di Jerman, melainkan juga di Indonesia, Kolombia, Peru, dan Lettland, untuk membebaskan anak-anak dari kemiskinan dan eksploitasi orang-orang yang mempekerjakan mereka, menolong, mendidik, serta mendukung mereka.
Beatifikasi Clara Fey hendaknya menjadi inspirasi bagi semua, yang mendedikasikan diri bagi pendidikan kaum muda, yang dewasa ini kurang mendapat tempat dalam masyarakat yang tidak lagi berfondasi pada nilai-nilai Injili.

Beata yang baru, lindungilah untuk seterusnya Kongregasi Suster PIJ dan biarkanlah kerasulannya berkembang dengan baik. Amin. (Terjemahan: Sr. Alfonsa, PIJ)