Tak Kenal, Maka Tak Sayang

Tahun 2009 ketika live in di biara, seorang suster meminjamkanku buku “Pola Hidupku” yang berisi tentang renungan Beata Clara. Dari situlah aku jatuh hati dan bertanya-tanya, siapakah sosok perempuan yang hidup rohaninya begitu mendalam ini? Sesudah masuk biara, kecintaan ini semakin bertumbuh ketika aku membaca buku “Moeder Clara Fey, Pendiri Kongregasi Para Suster Kanak-kanak Yesus yang Miskin” oleh Ignatius Watterott, OMI (cetakan kedua 1925) yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia (2002) pada hari-hari persiapan kaul kekal.

Perjuangan Beata Clara dalam mendirikan Kongregasi membuatku kagum dan bersyukur memiliki teladan seperti beliau. Sungguh perempuan yang hebat. Ketika Kongregasi belum disahkan, Beata Clara melakukan perjalanan beberapa kali dari Aachen ke Keuskupan Köln dengan menggunakan kuda selama 3 (tiga) hari lamanya. Selain itu, di tengah penutupan biara-biara akibat Kulturkampf, selama beberapa malam Beata Clara harus membawa 600 anak dari Jerman ke Belanda secara betahap dan sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui oleh pemerintah setempat.
Pada awal pendirian Kongregasi, Beata Clara sangat memerhatikan semangat hidup miskin. Baginya, dasar seluruh hidup religius adalah kaul kemiskinan. Disinilah terletak berdiri dan jatuhnya hidup membiara. Dokumen pertama dan tertua Kongregasi berhubungan dengan kemiskinan. Betapa para suster diajarkan untuk menghayati semangat hidup miskin seorang religius dan hidup hemat. Beata Clara tidak mengeluarkan uang satu sen pun tanpa meminta izin kepada suster yang bertugas mengelola keuangan. Kamar beliau sangat sederhana. Pakaian pun sederhana. Tidak mau diistimewakan.

Kasih kepada Kanak-kanak Yesus yang Miskin menyebabkan Beata Clara sangat mencintai kemiskinan. Dalam sebuah Kapitel beliau mengatakan: “Kita adalah abdi Yesus Kristus. Hendaknya kita hidup sebagai orang miskin yang baik. Semua yang ada di sekitar kita adalah milik orang miskin. Setan berusaha sekuat tenaga menggoda kita agar tidak setia pada kaul kemiskinan, sebab ia kehilangan semua bila kita menghayatinya sampai hal terkecil. Jadi, pergunakan segala sesuatu dengan hati-hati dan hemat. Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Roti yang busuk, minyak dan sup yang tumpah, satu korek api yang tercecer. Jika semua dikumpulkan pada akhir tahun sampai sedemikian banyak, kita semestinya dapat menerima satu anak miskin di asrama. Kelak jika Tuhan bertanya, ‘Mengapa anak itu tidak diterima?’ Apa jawaban kita?”

Di zaman sekarang ini, dunia menawarkan banyak kemudahan dan pilihan. Sebaliknya, semangat kemiskinan menarik kita dari pikiran praktis duniawi dan gaya hidup hedonisme serta mengajak kita secara ilahi untuk solider dengan orang miskin. Apabila tidak mau menghidupnya, hal ini tentulah menyakiti hati orang miskin, tetapi pertama-tama adalah Hati Kanak-kanak Yesus yang Miskin. Mulailah dari cara bekerja. Apakah aku memboroskan listrik yang tidak perlu? Apakah aku menggunakan kertas sampai habis terpakai? Berapa banyak tinta yang kupakai untuk bekerja, satu macam atau lebih?

“Peraturan Harian dan cara hidup yang ketat dari para suster perintis adalah bukti kesungguhan mereka berjuang hidup sebagai seorang religius.” Banyak waktu digunakan untuk latihan rohani dan berdoa. Panggilan religius pertama-tama adalah menjadi seorang pendoa. Beata Clara mampu melalui berbagai tantangan karena beliau senantiasa mengandalkan Yesus dan ketika mengambil keputusan selalu meminta pertimbangan daripada-Nya.

Semakin mendalami sejarah Kongregasi, aku diajak untuk hari demi hari semakin mencintai dan menghidupi semangat pendiri yang suci ini. Ada saat-saat ketika aku putus asa dan tak berpengharapan. Dan disaat itu pula Yesus mengutus para suster yang meneguhkanku melalui kekayaan rohani Beata Clara. Kedalaman hidup rohaninya menjadi teladan dan kesaksian hidupnya menginspirasi serta menjadi kekuatanku dalam kesulitan. Tak kenal maka tak sayang. Semakin kenal, semakin sayang.
(Sr. Clara Crescentia, PIJ)

Bagi Aku